Pada Tahun 2014, ada Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) saat itu menjabat periode 2009-2014 memberi statement "internet cepat buat apa" ? kalimat tersebut disampaikan melalui akun media sosial Twitter (sekarang X) pada Januari 2014 sebagai tanggapan atas kritik publik mengenai kecepatan internet yang lambat.
Apaan coba anjirrr, kalo rakyat komplain kecepatan internet lambat yah dibenerin lah tolol, belum lagi yang dipelosok itu. gak kebayang internet selambat apa, bisa jadi selambat kayak di tahun 2014 tapi saat ini sudah 2026, kocak bener. Internet di indo itu kyk siput atau kura-kura anjir. ini kita ngomongin average aja ya rata-rata kecepatan internet di indo itu berapa jangan ngomong di indo tapi di jakarta atau kota-kota besar bro. Pengguna internet di indo itu kayak ujian kesabaran
Entah itu dia sambil ngelem apa gimana ya, tapi dari statement tersebut menciptakan efek domino yang terasa pada lanskap digital di indonesia di tahun 2026. Ini udah cukup jelas dari statement tersebut menunjukkan sikap abai pemerintah masa itu terhadap urgensi pembangunan infrastruktur digital. Alhasil Indonesia sudah mengalami ketertinggalan selama bertahun-tahun.
Dari pola pikir tersebut ada 4 dampak nyata tersebut :
- Peringkat Kecepatan Internet RI Masih Terburuk
Akibat start pembangunan yang lambat dan kurangnya prioritas pada dekade lalu, posisi Indonesia di kancah global masih memprihatinkan. Berdasarkan data terbaru Speedtest Global Index dari Ookla (Mei 2026) - Fixed Broadband (Internet Kabel): Indonesia berada di peringkat 117 dari 149 negara dengan kecepatan rata-rata hanya 47,10 Mbps. Di Asia Tenggara, posisi ini bahkan kalah dari Laos dan Filipina, serta hanya unggul dari Myanmar.
- Mobile Internet (Seluler): Indonesia berada di posisi 74 dari 101 negara dengan rata-rata 62,54 Mbps.
- Beban Berat Kejar Tayang (Infrastruktur Tertinggal)
Karena sempat dianggap "tidak penting", pemerintah saat ini (melalui Kementerian Komunikasi dan Digital/Komdigi) harus bekerja ekstra keras melakukan catch-up atau kejar tayang. Komdigi baru bisa menargetkan kecepatan internet rata-rata nasional mencapai 100 Mbps secara merata pada tahun 2028. Artinya, di tahun 2026 ini, kesenjangan digital (digital divide) antara kota besar dan daerah terpencil masih menjadi PR besar yang belum tuntas. - Ketimpangan Daya Saing Ekonomi Digital
Jumlah pengguna internet di Indonesia melonjak drastis hingga menembus 235,2 juta orang. Namun, tingginya jumlah pengguna ini tidak diimbangi dengan kualitas koneksi yang merata. Akibatnya:
- Pelaku UMKM di daerah kesulitan bersaing di pasar e-commerce global karena masalah live streaming yang sering terputus atau koneksi tidak stabil.
- Pertumbuhan industri masa depan seperti Artificial Intelligence (AI), Cloud Computing, dan Data Center di Indonesia menjadi terhambat karena membutuhkan bandwidth masif yang stabil. [1]
- Sindrom "Meme" Abadi dan Krisis Kepercayaan
Secara sosial, kalimat tersebut bertransformasi menjadi legenda sinisme publik. Setiap kali masyarakat mengalami internet lelet, mati lampu, atau gangguan jaringan, kalimat "Internet cepat buat apa?" selalu digaungkan kembali di media sosial sebagai kritik tajam. pernyataan itu akan selalu dikenang sebagai hal yang buruk.
Dari dampak tersebut, harusnya anak SD pun sudah bisa mengerti Internet cepat itu untuk apa. Ini bukan soal gaya hidup lagi, tapi ini fondasi utama untuk survive di era modern. Kenapa disebut survive ? Kalau internet lambat, lalu bagaimana dengan orang yang WFH atau di dunia pendidikan bisa mengakses resource di internet yang jauh lebih luas? Lalu gimana ekonomi digital yang menjadi bahan utama bagi UMKM untuk live streaming tanpa ngelag streamingnya.
Mengatasi ketertinggalan infrastruktur digital memerlukan langkah strategis, termasuk akselerasi satelit LEO untuk wilayah 3T, insentif pajak bagi ISP di daerah pelosok, dan reformasi regulasi biaya retribusi kabel optik. Selain itu, optimalisasi dana Universal Service Obligation (USO) secara transparan krusial untuk pemerataan jaringan dan peningkatan daya saing ekonomi digital.
Tapi pasti sulit, karena bakalan di korupsi hehe😁, contoh sederhana aja deh kasus korupsi Base Transceiver Station (BTS) 4G yang dilakukan oleh Johnny G Plate itu udah merugikan negara dan untungnya saja proyek tersebut tetap terlaksana hingga 4.900 menara BTS 4G dan diresmikan secara massal pada Desember 2023 di masa pemerintahan jokowi
Padahal, jika internet kita merata dan ngebut sampai ke pelosok, masyarakat dari Sabang sampai Merauke bisa menikmati hak digital mereka secara maksimal: mulai dari belajar coding, memantau pergerakan saham secara real-time, mungkin juga bisa nonton streaming pidato prabowo.